
Seiring dengan hal tersebut study intensif
yang dilakukan berbagai pihak termasuk lembaga-lembaga pendidikan
terhadap pola pembelajaran dan pemahaman peserta didik terhadap beberapa
mata pelajaran termasuk bahasa Indonesia menunjukkan hasil yang kurang
memuaskan. Hasil studi menunjukkan bahwa pola pembelajaran bahasa
Indonesia di SMA cenderung abstrak dan menggunakan metode ceramah,
sehingga konsep-konsep akademik sulit difahami oleh siswa sebagai akibat
kurangnya motivasi belajar siswa dan pola belajar mereka cenderung
menghafal.
Meskipun Bahasa Indonesia adalah merupakan
pelajaran yang sangat penting, namun terkesan bahwa pelajaran bahasa
Indonesia merupakan pelajaran yang sulit dan membosankan. Hal ini yang
menyebabkan minat belajar siswa terhadap bahasa Indonesia sangat rendah.
Hasil penelitian Indra Irawan dalam skripsinya (2005) menyimpulkan
bahwa kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia
disebabkan, karena bahasa Indonesia dianggap sebagai mata pelajaran yang
sulit difahami. Tentu hal ini sangat memprihatinkan, karena bahasa
Indonesia adalah bahasa nasional dan sudah merupakan bahasa sehari-hari.
Jika dibanding dengan ilmu eksakta seperti
matematika dan IPA memang bahasa Indonesia jauh lebih mudah. Hal ini
sangat beralasan karena tidak membutuhkan banyak analisis dalam
penanaman konsep. Akan tetapi banyak guru yang mengalami kesulitan
mengajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia dengan baik. Kenyataan
memperlihatkan, bahwa kesan guru terhadap mata pelajaran bahasa
Indonesia gampang-gampang susah. Artinya, tidak membutuhkan banyak
pemikiran untuk mengajarkan, tetapi sulit menyampaikan dengan baik.
Kesulitan tersebut disebabkan beberapa alasan antara lain, mata
pelajaran bahasa Indonesia terkesan monoton dan tidak ada metode yang
ideal untuk mengajarkannya, disamping itu guru tidak kreatif untuk
menciptakan dan memanfaatkan metode pembelajaran bahasa Indonesia yang
efektif. Hasil survei yang dilakukan oleh Akhzan,S.Pd (2004),
menunjukkan bahwa 80,10 % menyatakan bahasa Indonesia sulit diajarkan
dari 80,10 % tersebut, 40% menyatakan bahwa minat siswa sangat kurang
terhadap pembelajaran bahasa Indonesia, 55% menyatakan kendalanya adalah
sulit menentukan alat praga dan menciptakan strategi, metode dan teknik
yang baik. Serta 5% menyatakan kendalanya adalah tingkat kesulitan
materi ajar yang cukup tinggi. Demikian pula halnya siswa, meskipun mata
pelajaran bahasa Indonesia dianggap mudah, namun terkesan kurang
diminati. Hasil penelitian Muh. Ramli (2005) terhadap siswa SMA di
Makassar memperlihatkan, bahwa 15 diantara 20 orang menyatakan Pelajaran
bahasa Indonesia kurang menarik. Dan 14 diantara 20 orang siswa
menyatakan Bahasa Indonesia Menjemukan.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa
sehari-hari, seharusnya menjadi suatu pelajaran yang diminati dan
disenangi oleh siswa namun kenyataannya secara umum rata-rata prestasi
pada mata pelajaran bahasa Indonesia masih dianggap rendah. Hal ini
disebabkan matei pembelajaran yang disampaikan oleh guru tidak difahami
oleh siswa. Salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan pemahaman
siswa dalam suatu proses pembelajaran adalah guru harus menggunakan
media pembelajaran yang sesuai.
Berdasarkan uraian di atas, tentu
dibutuhkan kreativitas guru dalam menciptakan suatu proses pembelajaran
yang menarik, menyenangkan dan bermakna, agar kesan bahwa belajar bahasa
Indonesia itu kurang menarik dan menjemukan dapat berbalik menjadi
belajar bahasa Indonesia itu mudah dan menyenangkan. Pembelajaran yang
beorientasi pada pemberian informasi sudah sepatutnya diminimalkan dan
diganti dengan pembelajaran yang lebih kreatif sehingga dapat
meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Hal ini sangat sesuai
konsep pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan dewasa ini yakni
belajar dengan metode inquriry dan (critical thinking) yang selama ini
banyak ditinggalkan. Demikian halnya pembelajaran kontekstual
(Contektual Teaching and Learning). Selain itu, banyak dampak positif
(naturan effect) yang dapat diperoleh siswa seperti memupuk sikap
ilmiah, meningkatkan kepercayaan diri, bermain dan bertanggung jawab
dalam suatu masalah melalui diskusi, bermain peran, berkompetisi,
bekerja sama dalam kelompok, berlatih , dan yang paling penting adalah
siswa terjun langsung mengalami proses pembelajaran.
Untuk memotivasi
teman-teman guru dalam pemanfaatan media mungkin ada baiknya dikemas
dalam bentuk kegiatan lomba media pembelajaran sekaligus menjadi wahana
dalam bertukar pikiran dan informasi yang menarik.
Casino - DrmCD
ReplyDeleteCasino - Games, Betting, Gambling & Poker - DrmCD. Find 익산 출장마사지 and 포항 출장샵 compare casinos 수원 출장샵 in the UK. Get info on the latest 용인 출장안마 promotions, games, and promotions 천안 출장샵